Di tengah masyarakat, masih sering ada anggapan bahwa urusan dapur dan kebersihan rumah sepenuhnya adalah tanggung jawab istri, sementara suami hanya bertugas di luar rumah. Padahal jika kita meneladani ajaran Islam dan kehidupan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, membantu pekerjaan rumah tangga justru merupakan sunnah dan wujud kepemimpinan yang teladan.
Islam tidak pernah memandang pekerjaan domestik sebagai hal yang merendahkan martabat pria. Sebaliknya, terlibat aktif di rumah adalah bagian dari akhlak mulia dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah) dalam pernikahan.
1. Meneladani Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Dalam Rumah
Banyak orang mengira pemimpin hebat hanya sibuk dengan urusan besar di luar. Namun, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam—manusia terbaik dan pemimpin umat—tidak pernah segan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri.
Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu 'anha, beliau pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saat berada di rumah:
"Beliau (Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) biasa membantu pekerjaan keluarganya. Apabila tiba waktu shalat, beliau keluar untuk melaksanakannya."
(HR. Bukhari no. 676)
Dalam riwayat shahih lainnya, Aisyah radiyallahu 'anha juga menjelaskan secara lebih rinci:
"Beliau adalah seorang manusia biasa; beliau menambal pakaiannya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri."
(HR. Ahmad no. 26194 & Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
2. Wujud Makna Qawwam (Pemimpin) yang Melindungi dan Meringankan Beban
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
"Laki-laki (suami) itu pengayom/pemimpin bagi perempuan (istri)..."
(QS. An-Nisa': 34)
Menjadi Qawwam bukan berarti bertindak otoriter atau sekadar memerintah dari jauh. Kepemimpinan dalam Islam berpijak pada pengayoman, perlindungan, dan perhatian terhadap kesejahteraan anggota keluarga. Ketika seorang suami melihat istrinya lelah mengurus anak dan rumah, sikap Qawwam yang sejati adalah ikut turun tangan meringankan beban tersebut.
3. Perintah Berbuat Baik kepada Istri (Mu'asyarah bil Ma'ruf)
Islam sangat menekankan pentingnya memperlakukan istri dengan cara yang paling baik dan penuh kelembutan. Allah SWT berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut/baik..."
(QS. An-Nisa': 19)
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda tentang tolok ukur kebaikan seorang pria:
"Keluarga yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perilakunya terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku."
(HR. Tirmidzi no. 3895 & Ibn Majah no. 1977, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Menyiapkan makanan, mencuci piring, atau menjaga kebersihan rumah bersama istri adalah salah satu bentuk nyata dari mu'asyarah bil ma'ruf (berbuat baik kepada istri) yang diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Catatan untuk Kita para Ayah
Melibatkan diri di dapur dan urusan rumah bukanlah bentuk "kelemahan" atau tunduk pada istri, melainkan bentuk ketaatan kepada ajaran Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Ketika seorang ayah menyapu lantai, menyiapkan sarapan sederhana, atau mencuci piring di dapur, ia sedang menjalankan sunnah Nabi sekaligus mengajarkan nilai-nilai Islam yang hangat kepada anak-anaknya.
Karena menjadi ayah yang meneladani Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah proses belajar yang tak pernah usai.